Di Balik Gunung Padang: Perjalanan Autodidak Menuju Layar
Setiap film memiliki kisah perjuangannya sendiri sebelum tampil di layar.
“Gunung Padang: Peradaban yang Hilang” bukan lahir dari ruang-ruang besar berfasilitas tinggi, melainkan dari ruang tamu sederhana, beranda yang sunyi, warnet yang lengang, hingga studio kecil yang sesekali mati lampu. Ia tumbuh dari tangan-tangan yang tak pernah belajar secara formal, tapi terus menggali ilmu dengan gigih. Dari kepala-kepala yang penuh mimpi dan dada-dada yang tak pernah kehilangan harapan. Mereka adalah para autodidak lintas generasi yang tak tunduk pada batasan, dan percaya bahwa semesta bisa dibangun oleh siapa pun yang berani bermimpi, juga cukup gila untuk mewujudkannya.
Semua Bermula dari Mimpi
Puluhan tahun silam, seorang bocah kebingungan karena setiap hari memimpikan hal-hal aneh. Mimpi tentang satu tempat yang tak dia kenali di realitasnya saat ini. Mimpi tentang situs-situs kuno di Bumi yang belum pernah dia datangi. Lebih mengguncang lagi, mimpi-mimpi itu terus berkelanjutan seperti kehidupan nyatanya. Saat dia tertidur di kehidupan ini, dia terbangun di dimensi mimpinya. Begitupun sebaliknya. Keduanya berkelindan hingga si bocah tak bisa membedakan mana mimpi dan mana realitas. Kondisi itu terus terjadi hingga dewasa. Dia hidup dalam kebingungan karena ternyata orang-orang di sekitarnya tak mengalami hal serupa. Dalam kegelisahannya untuk menemukan arti mimpi-mimpi itu, muncul satu tekad, mewujudkan kisah dalam alam mimpinya menjadi film animasi.
Proyek itu diawalinya pada tahun 2021, ketika salah satu anggota tim studionya mengusulkan untuk membuat karya orisinal. Perjalanan panjang mengembangkan IP Multisemesta Setra Sagara pun dimulai.
“Gunung Padang: Peradaban yang Hilang” merupakan fragmen dari IP Multisemesta Setra Sagara, proyek idealis dengan dana seadanya. Seperti proyek idealis lainnya, kami mesti mengawali dengan sumber daya mandiri. Termasuk merekrut tim. Mencari orang-orang sevisi-misi yang cukup nekad dan teguh merawat impian membangun peradaban dalam wujud tiga dimensi.
Setra Sagara, Suaka Bagi Mereka yang Tak Punya Kesempatan
Saat membentuk tim, kami memutuskan untuk tidak membatasi latar belakang mereka. Kami bercita-cita menjadikan Setra Sagara sebagai ruang suaka bagi mereka yang tak pernah diberi kesempatan. Bagaimanapun, banyak dari generasi kelahiran 70-an yang tumbuh di era ketika sekolah merupakan kemewahan dan impian sering kali harus dikorbankan demi dapur tetap mengepul. Setelah dewasa, mereka kembali terbentur kenyataan: peluang kerja sempit, ijazah tak mencukupi, dan usia dianggap penghalang. Di sisi lain, generasi muda pun tak luput dari nasib serupa: minim portofolio, terhambat biaya, dan ragu untuk bermimpi. Tapi di semesta ini, kami menolak menyerah. Di Setra Sagara, yang dibutuhkan bukan ijazah, tapi kemauan untuk terus belajar. Bukan gelar, tapi keberanian untuk bertumbuh. Karena kami percaya, setiap orang berhak atas kesempatan untuk menyalakan potensi dalam dirinya.
Maka, ketika kami mulai menyusun tim, yang kami cari bukan latar pendidikan, melainkan semangat dan keberanian untuk berdaya.
Tim Lintas Generasi, Satu Visi
Salah satu yang membuat proyek Setra Sagara begitu istimewa adalah keragaman usia dan latar belakang tim di baliknya. Dari anak SMK yang baru belajar Unreal Engine, pemuda putus sekolah yang mempelajari software 3D, hingga sosok tangguh berusia 51 tahun yang rela bergadang untuk mendalami seluk beluk dunia animasi.
Ada yang mengulik 3D modelling sepulang bekerja sebagai kuli bangunan. Ada yang belajar mengisi suara sehabis menjaga toko. Ada pula yang menyusun skenario sembari mengurus anak. Bahkan, ada yang baru kenal software editing tapi langsung berani menggarap komposit adegan penting. Di antara mereka, sebagian bahkan tak pernah menyentuh komputer sebelumnya. Semua orang menantang diri sendiri.
Dalam tubuh tim ini, tak ada yang terlalu muda untuk memimpin, dan tak ada yang terlalu tua untuk belajar.
Kami percaya bahwa usia bukan batasan, melainkan kekuatan. Di sinilah pengalaman bertemu semangat, kesabaran bertemu keingintahuan. Ini bukan hanya soal siapa yang paling jago, tapi siapa yang paling ingin bertumbuh.
Semua Otodidak: Belajar dari Nol
Tak satu pun dari kami datang dari dunia animasi profesional. Tak ada gelar yang menggantung di dinding. Tapi ada satu hal yang kami bawa bersama: keberanian.
Keberanian untuk membuka software yang bahkan namanya belum kami ketahui. Kami belajar dari mana saja. YouTube, tutorial, forum, tapi lebih dari itu, kami belajar dari satu sama lain. Selama berproses, kami mengizinkan diri untuk mengalami kegagalan, kebingungan, berbuat salah, tetapi terus bereksperimen. Karena kami tahu, dunia yang ingin kami bangun tak akan tercipta tanpa jatuh bangun. Yang muda mengajarkan shortcut keyboard. Yang tua membagikan filosofi gerakan dan kesabaran. Tak ada senioritas. Yang ada hanya semangat kolektif untuk terus bertumbuh bersama.
Semua yang penonton lihat di layar, dari cahaya kristal yang menyala, gerakan karakter yang bernapas, hingga komposisi warna yang hidup, lahir dari pertanyaan-pertanyaan jujur, “Gimana caranya bikin ini kelihatan seperti nyata?” Bukan dari SOP industri. Namun, dari dedikasi belajar yang nyaris tanpa henti.
Kami percaya, kreativitas tidak memerlukan izin. Kamu tak perlu sertifikat untuk menciptakan semesta. Kamu hanya perlu kemauan, dan tim yang percaya bahwa kamu mampu.
Dan dari ruang-ruang kecil itulah, perlahan tapi pasti, jantung Setra Sagara mulai berdenyut.
Suasana Kerja yang Organik dan Proses Menjadi Diri Sendiri
Tak semua proses berjalan mulus. Terkadang laptop mendadak hang, file penting hilang karena lupa menekan save, atau render gagal hanya karena setting yang keliru. Tapi ajaibnya, semua itu justru mempererat kami. Di sinilah kami belajar, bahwa proses bukan melulu perihal keterampilan teknis. Justru kekompakan dan rasa saling percayalah yang menjadi kunci. Proses selalu mengenai ketahanan mental, menjaga kewarasan dalam tekanan, dan pentingnya memberi ruang untuk menjadi diri sendiri.
Rapat kami kadang berantakan, seringkali penuh canda, tetapi produktif. Selalu ada benih ide yang tumbuh. Karena kami tahu, di balik semua tekanan dan target, yang kami kejar bukan hanya hasil, tapi juga proses yang manusiawi.
Kami bekerja sambil saling menguatkan. Ada yang sedang kehilangan orang tua, ada yang diteror tagihan, dan ada pula yang sedang memulihkan diri dari luka-luka batin. Namun, saat kami duduk bersama dan menyalakan layar, semua masalah seolah mereda. Karena kami sedang menciptakan sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit: peradaban.
Makna Dibalik Proses
Setiap proses kreatif dalam Setra Sagara selalu menyimpan makna spiritual. Bukan hanya sekadar menyusun animasi, tapi juga menyusun kembali harapan. Banyak dari kami yang datang ke proyek ini dalam fase hidup yang sulit, merasa gagal, kehilangan arah, atau tak lagi percaya diri. Tapi perlahan, lewat dunia fiksi ini, kami seperti disembuhkan.
Setra Sagara menjadi ruang terapi yang tak kami sadari. Ia menyatukan yang patah, memberi cahaya pada yang redup, dan memberi arah baru bagi banyak dari kami.
Bahkan lebih dari itu, proyek ini membuka mata kami bahwa peradaban bisa dibangun bukan hanya oleh mereka yang punya kuasa atau dana, tapi oleh mereka yang punya niat dan solidaritas. Kami tidak sedang membuat proyek, kami sedang membangun keluarga baru yang saling percaya.
Behind the scene dari Setra Sagara bukan tentang green screen dan studio mewah. Tapi tentang keberanian untuk belajar dari nol. Tentang anak-anak muda dan para pejuang usia matang yang saling menopang. Tentang mereka yang memilih untuk tidak menyerah, meski tidak tahu apakah dunia akan peduli.
Dan pada akhirnya, semesta memang hanya bisa dibangun oleh mereka yang berani bermimpi dan bekerja bersama.
Untuk setiap tangan yang menggambar, setiap mata yang menganimasi, dan setiap hati yang percaya: kisah ini tak akan pernah selesai. Karena kamu… adalah bagian dari semesta ini.
Dan kalau kamu juga sedang belajar dari nol, sedang mencari arah, atau sedang berpikir untuk menyerah… ingatlah kami. Kami bukan siapa-siapa. Tapi kami berjalan bersama. Dan mungkin, kamu juga ditakdirkan untuk menjadi bagian dari dimensi ini.
Sebagai bagian dari perjalanan memperkenalkan semesta Setra Sagara ke publik, kami juga telah mengadakan sesi screening perdana untuk film animasi fiksi Setra Sagara: Rahasia Gunung Padang, yang disambut hangat oleh para penonton dari berbagai latar belakang—pelajar, budayawan, akademisi, hingga komunitas digital kreatif. Momen ini menjadi langkah awal yang sangat berarti bagi kami, bukan hanya sebagai ajang presentasi karya, tetapi juga sebagai ruang dialog dan pertukaran mimpi. Acara ini turut diliput oleh media seperti LTN NU Jawa Barat
yang menyoroti bagaimana film ini tidak sekadar animasi, tetapi juga upaya membangun potensi, imajinasi, dan kesadaran kolektif tentang warisan budaya dan masa depan.
Selain itu, Setra Sagara juga terpilih sebagai salah satu finalis dalam ajang Bandung Film Initiative Awards, sebuah penghargaan yang memberikan ruang bagi karya-karya independen berbasis potensi lokal dan kreativitas komunitas. Dalam acara tersebut, karya kami dipamerkan bersama proyek-proyek lain dari berbagai penjuru Indonesia, membuktikan bahwa semesta yang kami bangun dari ruang kecil dan semangat besar ini telah berhasil menembus lebih banyak hati dan panggung.
