Dari Mimpi ke Goethe-Institut: Perjalanan Gunung Padang Menembus Realitas
Tak ada dunia yang terbentuk hanya dari imajinasi.
Di balik serial animasi Gunung Padang: Peradaban yang Hilang, berdiri barisan jiwa yang bekerja dalam diam, berkeringat dalam harapan, dan jatuh bangun dalam ketidakpastian. Proyek ini tidak lahir dari ruang mewah ber-AC atau pendanaan besar. Ia tumbuh di ruang-ruang kecil yang dipenuhi tawa, perdebatan, air mata, dan cinta, tempat di mana gagasan-gagasan gila dirawat dengan sepenuh jiwa agar perlahan menjadi nyata.
Empat tahun kami menenun Multisemesta Setra Sagara, kisah yang terlalu kompleks untuk dituturkan dalam sekali duduk, maka kami pecah menjadi fragmen-fragmen. Salah satunya adalah serial Gunung Padang: Peradaban yang Hilang. Selama hampir satu tahun penuh, tim kecil di balik layar membangun dunia dari nol: mimpi demi mimpi, pixel demi pixel, adegan demi adegan.
Hingga suatu hari, semesta kecil kami menembus layar festival. Karya ini terpilih sebagai finalis Seriale Indonesia 2025, festival bergengsi yang diselenggarakan Goethe-Institut Indonesia dan berafiliasi langsung dengan die Seriale – Jerman. Bagi kami, ini bukan sekadar pencapaian. Ini adalah jawaban semesta bagi mereka yang percaya bahwa mimpi bisa menembus batas realitas.
Semesta yang Dibangun Dari Ketidakpastian
Setra Sagara bukanlah proyek instan. Ia tumbuh perlahan, seperti benih yang disiram oleh tekad dan keyakinan untuk menghadirkan kisah Nusantara dalam wajah yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Kami berangkat sebagai tim indie. Tanpa modal besar. Tanpa nama mentereng. Hanya satu yang kami genggam erat: keyakinan bahwa cerita dan gagasan ini layak disuarakan.
Perjalanan kami dimulai dari coretan di kertas, diskusi hangat di ruang tamu, hingga mimpi-mimpi yang ditulis diam-diam dalam jurnal malam. Saat itu, kami tak tahu apakah dunia ini bisa benar-benar terwujud. Namun, kami terus menyusunnya. Karena semesta ini telah hidup dalam kepala kami.
Setiap hari kami bergulat dengan keterbatasan: perangkat yang pas-pasan, dana yang terbatas, kru yang harus belajar dari nol, dan bahkan keraguan dari orang-orang yang kami cintai. Tapi ajaibnya… visi ini memanggil jiwa-jiwa. Ada yang datang karena jatuh cinta pada ceritanya. Ada yang bertahan karena percaya pada visinya. Mereka kami latih, kami temani belajar software-software animasi, dari modeling hingga Unreal Engine.
Bersama tim autodidak, kami membangun adegan sambil membongkar batasan, sembari belajar menjaga bara api semangat. Saat listrik mati, kami bekerja dengan cahaya lilin. Saat server rusak, diskusi tetap berlangsung di beranda rumah ditemani suara jangkrik dan kucing peliharaan yang seolah ikut “meeting”. Setiap karakter yang muncul di layar merupakan hasil dari puluhan literatur, retakan emosi, dan tekad untuk tidak berhenti meski dunia menganggap kami hanya pemimpi yang kelewat berani.
Tidak ada yang mudah. Tapi juga tidak ada yang mustahil. Karena kami tidak sedang membuat animasi. Kami sedang membangun jembatan antara sejarah yang terkubur, menuju spiritualitas yang nyaris dilupakan, dan masa depan yang patut dibayangkan.
Setiap langkah kami hadapi dengan perasaan campur aduk. Ada hari-hari ketika kami merasa ini semua sia-sia. Ada saat-saat kami ingin menyerah, membungkus semua dunia ini kembali ke dimensi imajinasi. Tapi kalimat itu selalu datang, seperti gema dalam dada, “Ayo… ini bukan cuma film. Ini peradaban.”Sejak itu, menyerah tak pernah lagi menjadi opsi.
Goethe-Institut: Dimensi Terbuka
Saat akhirnya kami mendapat kesempatan untuk menayangkan karya di Goethe-Institut Indonesia dalam rangka Festival Seriale Indonesia, rasanya seperti dunia membalas setiap usaha kami.
Di layar, kami melihat karya kami hidup.
Di hadapan penonton, kami mendengar cerita kami bernapas.
Di ruang itu, Gunung Padang-Setra Sagara bukan lagi mimpi. Ia nyata.
Acara ini bukan hanya soal kompetisi atau screening. Ia adalah bentuk validasi bahwa kami, para pemimpi dari Bandung, bisa menciptakan sesuatu yang pantas berdiri di panggung nasional—bahkan global. Kami pun merasakan koneksi para penonton dengan energi yang kami bangun sejak awal.
Kami tidak membawa nama besar. Kami datang membawa semesta. Dan semesta itu cukup untuk mengetuk ruang batin mereka yang hadir.
Untuk Mereka yang Ingin Menyerah
Tulisan ini bukan untuk pamer, tapi untuk mengingatkan: mimpi tidak akan mengkhianati siapa pun yang memperjuangkannya.
Kami tahu betapa sulitnya membangun sesuatu dari nol. Kami tahu rasanya ditertawakan karena bermimpi terlalu besar. Tapi kami juga tahu, dunia butuh lebih banyak orang gila yang percaya bahwa imajinasi bisa menyelamatkan kita dari kehampaan.
Hari itu, kami berdiri… bukan sebagai tim kecil tanpa nama. Tapi sebagai penjaga semesta yang lahir dari imajinasi kolektif.
Jika kamu sedang ingin menyerah, mungkin kamu hanya butuh satu hal: teman seperjalanan yang percaya bahwa idemu layak diperjuangkan. Begitu juga kami. Kami tidak akan sampai sejauh ini jika tidak ada yang saling menguatkan, saling membakar semangat, dan saling menyelamatkan dari rasa putus asa.
Perjuangan kami masih panjang. Tapi satu dimensi telah terbuka.
Dan kami akan terus berjalan, dengan atau tanpa panggung, karena kami tahu: Setra Sagara bukan hanya cerita. Ia adalah panggilan jiwa.Untuk semua yang percaya, dan bahkan untuk yang pernah ragu… semesta ini terbuka untukmu.
Dan siapa tahu, suatu hari nanti… semesta yang kamu bangun, juga akan mengetuk pintu dunia. Sama seperti yang kami alami di Goethe-Institut.
